BEBAN MASKULINITAS BIKIN LAKI-LAKI RENTAN BUNDIR?

Mayoritas korban bunuh diri adalah laki-laki. Kasus Cangar menunjukkan bagaimana beban maskulinitas bisa berujung fatal.

GENDER

Kartika A. F.

4/27/20262 min read

    Jembatan Cangar telah menjadi saksi hilangnya dua nyawa dalam satu bulan terakhir. Bukan karena kecelakaan melainkan sengaja menjatuhkan diri dari atas jembatan, keduanya laki-laki dan keduanya mengakhiri hidup dititik yang sama. Peristiwa ini bukan sekedar tragedi individu, melainkan seperti sebuah pola.

     Pada peristiwa pertama 31 Maret 2026 korban disebut meninggalkan rokoknya di atas jembatan sebelum melompat. Setelah kejadian pertama lokasi mulai didatangi warga, orang-orang menaruh rokok, bunga, bahkan kopi sebagai bentuk empati. Berjarak 23 hari setelah peristiwa pertama kejadian serupa terulang. Fenomena ini perlu diwaspadai karena berpotensi memicu Werther Effect yang mana tindakan bunuh diri dapat ditiru setelah terekspos secara luas. Karena itu, cara kita membicarakan kasus ini penting untuk tidak sensasional, tetap membuka ruang empati dan pencegahan.

Beban Maskulinitas Bisa Menjadi Potensi Bunuh Diri

      Fakta bahwa dua peristiwa bunuh diri tersebut dilakukan oleh laki-laki membuka tabir tentang bagaimana data bunuh diri di Indonesia sebenarnya. Berdasarkan studi terbaru tentang profil bubuh diri di Indonesia mencatat bahwa rasio bunuh diri laki-laki disbanding perempuan adalah 2,11:1. Bisa dibanyangkan dalam 100 kasus. Sekitar 67-70 kasus dilakukan oleh laki-laki. Pola ini juga sejalan dengan data global dari Worl Health Organization (WHO) yang menunjukkan bahwa hamper dua pertiga kematian akibat bunuh diri terjadi pada laki-laki.

      Untuk memahami fenomena ini kita bisa merujuk pada konsep hegemonic masculinity dari R. W. Connell yang menjelaskan bahwa maskulinitas dominan membentuk laki-laki untuk selalu kuat, rasional dan tidak emosional. Dalam kerangka ini, kerentanan bukan hanya dianggap kelemahan tetapi sesuatu yang harus disembunyikan. Di Indonesia sifat maskulin selalu dilekatkan dengan laki-laki seolah itu sesuatu yang kodrati bahkan seringkali dibalut dengan dalil agama. Hal ini membuat laki-laki menjadi yang paling rentan mengalami tekanan mental namun sangat jarang terlihat meminta pertolongan.  

     Masalahnya, hidup tidak selalu bisa ditanggung dengan standar Provider Mindset. Ketika tekanan datang, entah karena ekonomi, relasi atau pekerjaan, banyak laki-laki tidak memiliki ruang aman untuk mengekspresikan beban mereka. Mereka dibesarkan untuk bertahan, tetapi tidak diajarkan bagaimana meminta bantuan. Alih-alih bercerita, laki-laki memilih diam dan memendam.

Laki-laki Boleh Bercerita: Tanda Masyarakat Mulai Sadar

      Di tengah situasi ini, muncul sebuah respon yang melegakan dari seorang warganet. Sebuah banner dipasang di jembatan Cangar dengan tulisan “Ojo Bunuh Diri, Lelaki Boleh Bercerita”, lengkap dengan kontak layanan curhat gratis. Konten tersebut dibagikan oleh akun Instagram @fandyalfian96 yang menayangkan video dirinya tengah memasang banner di sisi jembatan. Pesan sederhana ini, memapu menyentuh intinpersoalan. Memang beberapa waktu belakangan tagar “lelaki tidak bercerita” sempat menjadi tren di sosial media dan semakin melanggengkan beban maskulinitas tersebut pada laki-laki.

      Hadirnya konten serupa seolah menjadi counter terhadap norma lama bahwa laki-laki harus selalu kuat. Hal ini membuka ruang baru bahwa laki-laki juga boleh rapuh, boleh Lelah dan boleh bercerita. Dalam perspektif sosial, ini adalah upaya mendefinisikan ulang maskulinitas yang selalu dilekatkan dengan laki-laki menjadi lebih manusiawi.

Referensi:
Onie, Sandersan, et al. “Suicide in Indonesia: A Systematic Review and Meta-Analysis.” Asian Journal of Psychiatry (2024).

World Health Organization. Suicide Worldwide in 2019: Global Health Estimates. Geneva: WHO, 2021.

R. W. Connell. Masculinities. Berkeley: University of California Press, 1995.

David Phillips. “The Influence of Suggestion on Suicide: Substantive and Theoretical Implications of the Werther Effect.” American Sociological Review 39, no. 3 (1974): 340–354.

Gambar dibuat oleh AI belum punya ilustrator