“TURANG” DAN LUKA YANG BELUM SEMBUH: Menonton ulang film klasik Indonesia dari kaca mata Indonesia Gelap

Di tengah Indonesia yang kini kembali dirundung gelap di mana kekuasaan ingin selalu dirayakan tanpa kritik, sejarah dikurasi oleh narasi penguasa Turang justru terasa lebih hidup dari sebelumnya. Ia adalah arsip yang menolak mati, dan kesaksiannya kini menyala lagi di layar-layar kecil komunitas film, ruang pemutaran independen, atau diskusi di pinggiran kota. Ia kembali bukan sebagai hantu masa lalu, melainkan sebagai pengingat keras bahwa sejarah kita tidak pernah hitam-putih, dan bahwa terang tak akan muncul tanpa berani menyibak gelap.

CULTUREHISTORYFILMPOLITICS

Kartika Ainun Fitri

5/21/20253 min read

Film Turang akhir-akhir ini menarik minat para penikmat film untuk dilakukan pemutaran ulang di berbagai forum diskusi, baik yang dilakukan oleh komunitas pegiat film, literasi, budaya, dan seni di berbagai daerah. Tidak ingin ketinggalan dari daerah lain pegiat sejarah dan budaya di kabupaten Jember yaitu Sudut Kalisat menggelar pemutaran film Turang dalam program rutinan mereka Sinema Kelontong. Ada apa sebenarnya di balik geliat pemutaran film Turang belakangan ini?. Untuk menjawab pertanyaaan tersebut mari kita awali dengan memperkenalkan film ini.

Film berjudul Turang merupakan film klasik Indonesia yang pertama kali dirilis pada tahun 1957. Film ini disutradarai oleh Bachtiar Siagian, seorang sutradara yang karyanya cukup penting dalam sejarah perfilman Indonesia. Turang menggambarkan perjuangan masyarakat Karo pada masa perang revolusi ini menjadi karya penting dalam sinema realis Indonesia. Turang juga menjadi bagian dari diplomasi Indonesia di era tersebut. Film ini diputar dalam tiga edisi Festival Film Asia Afrika yaitu di Tashkent (1958), Kairo (1960), dan Jakarta (1964). Partisipasi ini menunjukkan bagaimana film ini digunakan sebagai alat untuk menyebarkan semangat anti kolonial dan solidaritas antar negara berkembang melalui media sinema. Film ini bahkan mendapatkan penghargaan sebagai Film Terbaik dalam Pekan Apresiasi Film Nasional (sekarang FFI) pada tahun 1960.

Meskipun demikian tidak lantas membuat film Turang selamanya mendapatkan tempat di kancah perfilman Indonesia. Posisi Bachtiar Siagian sebagai anggota Lembaga Kebudayaan Rakyat (LEKRA), yang memiliki pandangan politik yang progresif dan berhaluan kiri telah membawa konsekuensi serius seiring dengan pergantian situasi politik paska peristiwa 65. Ia ditangkap dan dipenjara selama 12 tahun tanpa proses pengadilan, dan karya-karyanya dilarang serta dihapus dari peredaran. Setelah dibebaskan pada tahun 1977 Bachtiar Siagian masih dilarang untuk berpartisipasi dalam dunia perfilman secara resmi. Namun, ia tetap berkarya secara anonim. Pengaruh politik Rezim Soeharto yang anti kiri telah menyebabkan banyak karyanya hilang atau dimusnahkan dan Namanya terlupakan dari sejarah perfilman Indonesia.

Menjawab pertanyaan di awal “Ada apa di balik geliat pemutaran film Turang belakangan ini? Barangkali jawabannya adalah kemampuannya menegur zaman yang baru dengan luka yang sama. Namun yang menarik bukan sekadar nostalgia sinematiknya, melainkan kenyataan pahit bahwa apa yang ingin disuarakan Turang lebih dari enam dekade lalu, masih juga terasa akrab di tubuh sejarah kita hari ini. Bukan tentang adegan perangnya melainkan tentang konteks sejarah perjalanan film ini. Di tengah ramainya hastag tentang #IndonesiaGelap yang ramai belakangan ini menjadi menarik untuk membedah film ini lebih jauh.

Dibangun dengan gaya realisme yang sederhana namun emosional, Turang berkisah tentang perjuangan rakyat Karo melawan penjajahan Belanda selama masa perang revolusi. Cerita berpusat pada wakil komandan Rusli yang terluka dalam pertempuran dan dirawat secara rahasia oleh Tipi adik perempuan dari salah satu gerilyawan. Seiring waktu, tumbuhlah cinta antara Rusli dan Tipi. Film ini menghadirkan ketegangan antara cinta pribadi dan tanggung jawab kolektif dalam konteks perjuangan kemerdekaan. Selain itu, Turang menggambarkan bagaimana posisi sosial perempuan di tengah masyarakat pada masa itu, serta dilema moral yang dihadapi oleh para pejuang. Dengan latar belakang budaya Karo, film ini juga memperkenalkan nilai-nilai lokal kepada penonton yang lebih luas.

Menonton Turang hari ini, kita tidak hanya sedang menengok masa lalu, melainkan menatap wajah masa kini dari kaca buram. Gaya narasi film ini yang terasa History from below menjadi contoh penting dalam dunia perfilman masa itu bagaimana sinema bisa berbicara tentang kondisi realitas sosial rakyat kecil pada masa sulit. Turang tidak sekedar menghadirkan adegan perang, namun menghadirkan ingatan kolektif dan semangat melawan “penindasan”. Dalam konteks masa kini penindasan bukan lagi melalui sikap represif dan arogansi fisik, namun penindasan itu berupa “kebijakan ngaco” yang membuat rakyat kecil kian menderita..

Selain itu, kita tahu bahwa pemimpin rezim saat ini adalah bagian dari rezim otoriter yang dulu pernah melarang bahkan membinasakan karya yang dianggap berafiliasi dengan kelompok kiri. Sehingga pemutaran film Turang dewasa ini mungkin bisa diartikan sebagai salah satu bentuk resistensi dan alarm akan bahaya laten rezim yang mendaulatkan diri sebagai new orde. Pembungkaman semacam itu kini mulai dirasakan kembali, namun bukan lagi dalam bentuk pelarangan tapi dalam bentuk “penggembosan citra” diawali dari penggembosan media, tokoh bahkan universitas yang dianggap berpotensi “mengganggu”melalui berbagai platform media sosial. Bisa dikatakan sosial media saat ini seperti sebuah medan perang.

Tidak heran jika film ini kini diputar di forum-forum kecil juga ruang diskusi kebudayaan progresif. Ia menjadi teks yang dapat dibaca ulang bukan hanya untuk mengetahui sejarah sinema Indonesia, tapi juga sebagai cara untuk mengkaji bagaimana bangsa ini membentuk narasi tentang perjuangan atas penindasan. Lebih dari sekadar karya estetika, Turang adalah dokumen ideologis, hadir bukan sebagai nostalgia, tapi sebagai peringatan bahwa sinema pernah menjadi medan perjuangan, bukan sekadar hiburan.

Di tengah Indonesia yang kini kembali dirundung gelap di mana kekuasaan ingin selalu dirayakan tanpa kritik, sejarah dikurasi oleh narasi penguasa Turang justru terasa lebih hidup dari sebelumnya. Ia adalah arsip yang menolak mati, dan kesaksiannya kini menyala lagi di layar-layar kecil komunitas film, ruang pemutaran independen, atau diskusi di pinggiran kota. Ia kembali bukan sebagai hantu masa lalu, melainkan sebagai pengingat keras bahwa sejarah kita tidak pernah hitam-putih, dan bahwa terang tak akan muncul tanpa berani menyibak gelap.